Sabtu, 03 Juli 2010

cerpen "karya tak berbekas"

Oleh : Sulastinah

Berkarya bukanlah hal yang menarik bagi insani, berkarya untuk menciptakan hal-hal yang baru, hal-hal yang dapat merangsang imajinasi dalam melakukan sesuatu.
Aku duduk terdiam, diantara hamparan-hamparan kertas kosong dan tinta yang bertaburan di sekitar meja kerjaku. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, tulisan apa yang akan ku goreskan di atas kertas putih mulus itu, tulisan apa yang akan menghiasi di setiap baris dan tulisan apa yang akan ku tulis untuk menghabiskan semua tinta penaku ini. Jarum jam terus berputar diantara angka-angka yang tak pernah aku sukai, angka-angka yang selalu membuatku bingung untuk melakukan hal-hal yang tak bias aku mengerti, angka-angka itulah yang membuatku tergesa-gesa untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang ada di pikiranku.
“Huhft…susah sekali mencari inspirasi yang pas untuk ku tulis,” gerutukku.
“Belum tidur, Key?” Tanya Indra tiba-tiba.
“Belum bang, aku tidak bias tidur, karena sampai sekarang aku blum bias menulis apa-apa, padahal besok tulisan ku ini akan diperiksa oleh dosen dan langsung dinilai tulisan siapa yang cocok untuk diterbitkan di Koran edisi minggu depan.” Jawabku dengan setengah memlas.
“ya udah, kamu tidur dulu, entar selesai shalat subuh kamu kerjakan kembali, mungkin dengan kamu istirahat pikiranmu akan lebih fresh dan dengan mudah untuk mencari inspirasi menulis cerpen,” bujuk Indra.
“ Ya, bang sebentar lagi aku tidur, sepertinya otakku tidak bisa diajak kompromi lagi, good night bang, have a nice dream…”selaku. Aku langsung menutup jendela kamar dan menarik selimut langsung ku ajak mataku untuk beristirahat menanti fajar yang indah.
Tak disangka dan tak ku duga, subuhku terlewati, rencanaku untuk menulispun gagal, ternyata tidak hanya otakku yang tidak bias diajak kompromi tapi mataku pun enggan sekali bersahabat dengan ku. Dia hanya setia menemaniku dalam menikmati indahnya peristirahatanku.

Tengah asyiknya berjalan menuju kampus tiba-tiba sebuah mobil melintas ke arahku, mungkin karena matanya yang masih terkantuk, langsung menabrakku, aku kaget dan langsung terjatuh, di saat itu aku tidak sadarkan diri lagi apa yang terjadi padaku, hingga tak ku sangka ketika aku bangun dan menggerakkan kaki ku, susah sekali untuk digerakkan hingga seseorang yang di sampingku memberi tahuku bahwa kakiku yang sebelah kiri tidak berfungsi lagi,
“ Key, abang yakin kau gadis yang manis, gadis yang kuat, dan gadis yang baik, abang juga yakin apa yang terjadi apdmu ini merupakan ujian dari Tuhan dan bila kamu sanggup melewati ini semua kamu akan mendapat kebahagiaan yang berlimpah jua”
Aku diam membisu dan berfikir apa yang harus aku lakukan kalau tidak ada lagi penyangga yang menopang tubuhku, serasa tak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini, sungguh ini merupakan hal yang sangat berat aku terima.
Hari-hariku diisi dengan menulis dan menulis, tulisanku terus aku kirim ke majalah-majalah atau pun koran setiap minggunya hingga akhirnya tulisanku diterima di salah satu koran yang cukup terkenal di kotaku. Betapa bangganya aku ketika aku tahu kalau tulisan hasil karya ku dimuat di koran. Sehingga aku dipanggil oleh direktur dari koran tersebut ketika aku berhadapan orang tersebut kaget melihatku yang berjalan gontai dengan menggunakan tiga kaki, satu kaki masih bias berfungsi dengan baik, yang satunya lagi hanya sebagai hiasan tapi tidak dapat berfungsi dengan baik, dan satu lagi adalah kaki yang diciptakan manusia dengan kayu, karena perusahaan koran tersebut tidak mau menerima hasil karya anak yang memiliki kekuranganakhirnya tulisanku tidak jadi untuk diterima. Di saat itu aku merasa Tuhan memang tidak adil, kenapa di saat kakiku sehat tak satupun karya ku dioterima tetapi sekarang kakiku tak berguna lagi karya ku diterima kemudian ditolak hanya karena pencipta karya tersebut tidak sempurna, sungguh karyaku yang sangat tidak berbekas.
“mungkin ini sudah jalan takdirku untuk menerima apa yang akan terjadi, aku hanya bisa berusaha dan berdoa hasilnya aku serahkan pada yang Kuasa” keluhku dalam hati.
Mungkin ini tulisan terakhirku, aku tidak akan menulis lagi, karena menulis akan membuatku terluka dengan kenangan yang menyakitkan aku, jangan pernah kita memandang rendah orang dari fisik tapi lihatlah kemampuan seseorang itu dari keahliannya karena belum tentu orang yang sempurna mampu untuk melakukan hal-hal yang positif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar