Jumat, 09 Juli 2010

Cerpen "Tunggu Tubang"

TUNGGU TUBANG


Gadis itu duduk menangis di tumpukan bebatuan pinggiran sungai.siaang yang mendung membuatnya percaya bashwa alam mengerti bagaimana suasana hatinya. Ia tak berkawan , ia memang sendirian.
Sekumpulan bocah melintas. Lekas-lekas ia seka air matanya pemandangan itu bukanlah sesuatu yang asing baginya . kalah ia masih bocah, bersama kawan-kawannya ia juga seperti mereka. Masih lekat dalam ingatannya betapa masa-masa kanak-kanak adalah masa yang paling menmyenangkan, tanpa beban, tanpa masalah.
Bocah-boca yang sempat menghilang dari pandangan si gadis, kini kembali lagi di sekitarnya dengan membawa serta tawa canda mereka yang terdengar menyenangkan.
“ sayang aku bukan lagi seorang bocah seperti mereka”. Perlahan, kegundahannya hilangkehadiran bocah-bocah itu secara tidak langsung bisa menghiburnya. Ingin rasanya ia ikut bergabung bersama mereka. Namun ia sadar masa untuyk itu telah lewat.
Kesedihan sering kaliu mewarnai harinya akhir-akhir ini. Bagaimanapun sebelum keberangkatannya untuk kuliah di tanah jawa tepatnya di Jogja lima tahun yang lalu ia telah menyapakati poersyaratan oleh kedua oranmg tuanya menyanggupi untuk menguliahinya dengan syarat bahwa ia wajib pulang ke kampung halamannya segera setelah studinya usai untuk menjalankan tradisi tunggu tubing.
Sebagai anak pertama dan cucu pertama, ia memiliki kewajiban untuk menetap di dusun bertugas menjaga sekaligus menjadi ahli waris utama. Namun, semuanya terasa menjadi beratsetelah hadirnya cinta dalam masa ia menuntut ilmu di jogja, lelaki yang selalu muncul dalam benaknya itu Giman, teman sekelasnya. Mereka tak bisa melanjutkan hubungan meskipun giman bersedia melamarnya namun, ia tidak bisa ikut tinggal di dusun nya karena sebagai anak tunggal ia tidak tega meninggalkan ibunya yang sudah tua dan janda pula.
Ia masih mengenang giman dan berbagai kenangan bersamanya hingga hari beranjak petang. Kini hari-hari yanmg di lewatinya adalah hari-hari yang membosankan. Ia sempat dua kali mengikuti tes CPNS namun tak pernah berhasil. Karena tidak memiliki pekerjaan aktivitas hariannya tak bisa lepas dari kamar, sawa, dan sungai. Di sanalah ia rutin melamun termangu sedih memikirkan banyak mimpi yang tergapai juga memikirkan Giman. Tak sep[erti dia, teman-taman akrabnya tak ada yang memiliki kewajibanyya untuk menjalankan tradisi tunggu tubing sebagai dirinya.
Sebenarnya, aturan adat telah membuatnya ingin segera mendapatkan cara untuk meninggalkan dusun yang telah membesarkannya itu. Hari itu menjelang siang ia menyusuri sawa sambil menjinjing sangkik berisi makanan buat pekerja upahan, seusai menyajikan makanan kepada para pekerja upahan yang semuanya adalah kaum perempuan, ia menuju sungai. Tiba-tiba jiwa pemberontaknya bangkit ia bergegas meninggalkan sungai, ia langsung memberhentikan sebuah bus antar pulau antar provinsi, ia sudah bulat dengan keputusan untuk meninggalkan kampung ini menuju pulau jawa, telah ia selipkan surat berisi permintaan maaf kepada ibunya dan calon suaminya.
Ia berketewtapan hati untuk melepaskan semua hak atas harta warisan keluarganya atas status tunggu tubangnya. Bus kota itu segera menderu meninggalkan dusun itu. Meski air matanya tumpa ada senyum kebahagiaan yang tersungging di bibirnya yang bergumam sendirinya,
“maafkan aku ibu, suatu saat aku akan pulang”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar