Jumat, 09 Juli 2010

DRAMA "ADIKKU TERSAYANG"

ADIKKU TERSAYANG
Karya : Roaidah
Panggung menggambarkan sebuah rumah sederhana, ruang keluarga yang terdiri dari satu set meja kursi, almari beserta isinya, dan di dinding terpasang beberapa foto keluarga. Sore hari yang cerah, sinar sang surya yang masih hangat menerobos melalui celah jendela. Saat itu Ratni sedang berbincang-bincang dengan Lasmi.

Adegan I
Lasmi sedang manjahit baju Garno yang sobek terkait ranting di ladang di ruang tengah, masuklah Lasmi sambil membawa pakaian yang sudah rapi disetrika.

Lasmi : (Duduk di dekat Ratni) Ayah belum pulang, Bu?
Ratni : Ayahmu menyelsaikan pekerjaan, katanya nanggung. Ayahmu memang orangnya seperti itu, kalau mengerjakan sesuatu nggak pernah tanggung-tanggung. Tumben kamu tanya ayahmu? Biasanya dia pulang malam kamu juga gak pernah tanya (sambi menjahit).
Lasmi : (mendekati Ibu) Aku ingin menanyakan sesuautu pada Ayah, Bu. Tentang masa depanku.
Ratni :Maksudmu? (heran) Kamu ingin sekolah? Kamu nggak perlu sekolah, harta ayahmu tidak akan habis sampai tujuh turunan. Atau ingin menikah?
Lasmi : Aku kan sudah besar, Bu. Sudah sepantasnya aku menerima harta warisan dari ayah. Umurku 15 tahun, bagi orang kampung itu usia yang sudah cukup untuk menerima warisan.
Rtni : Tapi untuk apa? Kamu kan masih tinggal bersama kami. Jika kelak nanti kamu sudah menikah, ayahmu pasti akan memberikan warisan itu.
Lasmi : (membujuk) Tapi, Bu. Teman-temanku belum menikah sudah mendapatkan warisan dari orang tuanya, bahkan umurnya lebih muda dari aku, Bu.
Ratni : Ya nanti Ibu bicarakan dengan ayahmu. Sekarang kamu siapkan makanan di dapur, untuk makan nanti malam.
(Lasmi pergi ke dapur, Ratni masih menyelaikan jahitannya)



Adegan II
Ratni : (Tiba-tiba Garno masuk dari pintu belakang) Eh, Bapak sudah pulang. Kok Ibu nggak dengar, sudah mandi lagi lagi.
Garno : (Duduk di samping Ibu) Iya. Aku tadi langsung mandi, punggungku kena ulat dari pohon kedondong. Sudah selesai Bu, bajuku?
Ratni : Gosok minyak angin saja Pak, daripada nanti tambah gatal!
(Ratni mengambilkan minyak angin, lalu menggosokkannya di punggung Bapak). Pak tadi Lasmi bilang sama Ibu, menanyakan tentang bagiannya? Apa Bapak sudah memikirkan hal itu?
Garno : (Kaget) Apa? Mau apa dia? Memangnya dia sudah tidak butuh kita? Apa dia ingin hidup sendiridenga membawa warisan dan berfoya-foya di luar sana? Aku tidak akan melakukannya.
Ratni : Tapi Pak...
Garno : Diam. Aku mau tidur, aku tidak mau membicarakan masalah ini lagi. Bilang sama anakmu jangan macam-macam.
(Ayah masuk kamar dengan nada marah)
Lasmi : (Lasmi masuk dari dapur) Bu, Ayah kenapa, Bu? Ayah marah ya Bu?
Ratni : Ya seperti itulah Ayahmu, kalau kehendaknya tidak sesuai dengan keinginannya.
Lasmi : Jadi, ayah tidak akan memberikanku warisan, Bu?
(Marah, lalu pergi ke luar rumah, entah kemana)
Ratni : (Menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang Lasmi pergi)

Adegan III
Lasmi : (Masuk dari kamar ke ruang tengah, sambil mengintip apakah ada orang atau tidak) Syukur...tidak ada orang (membuka laci lemari, mencari-cari sesuatu) Di mana ya ayah menyimpan uang? Biasanya di sini. Kok nggak ada. (kembali membuka laci-laci yang lain) Ini dia...
(mengambil satu ikat uang yang jumlahnya cukup banyak lalu dimasukkan ke dalam tas dan pergi entah kemana. Tanpa aepengetahuannya, Rusdi ternyata mengintip dari balik pintu kamarnya)
Rusdi : (masuk ke ruang tengah lalu merapikan laci-laci yang masih terbuka) Kenapa kakak senekad ini? Kalau ketahuan ayah pasti ia dihajar habis-habisan.
Ratni : Kamu sedang apa Rusdi?
Rusdi: (Kaget) Eng...eng...enggak apa-apa, Bu. Cuma merapikan laci-laci saja. Tadi berantakan, Bu.
Ratni : (Curiga) Tumben kamu merapikan laci, biasanya kan kamu nggak pernah bersih-bersih atau merapi-rapikan sesuatu, kamarmu saja berantakan?
Rusdi : I...Iy...Iya, Bu tadi kebetulan lewat...
(Langsung pergi ke luar karena dipanggi teman-temanya)
Ratni : (Masih bingung) Aneh anak itu, tak seperti biasanya. Dia tampak gugup...atau jangan-jangan...(Lalu membuka laci tempat menyimpan uang Ayah) Hah...uang ayah nggak ada...kemarin kan ayah jual cengkeh kering 5 kuintal, uangnya kan satu gepok. Kok sekarang nggak ada. Atau mungkin sudah diambil ayah?
(Masih bingung, lalu menuju ke dapur)

Adegan IV
Garno : (Masuk dari luar, lalu membuka laci akan mengambil uang untuk membayar sesuautu)
Loh...kok uangku nggak ada? (mencari lagi, semua laci dibuka tapi tidak ketemu) Bu...Bu...uangku mana? Kok hilang
Ratni : (Nampak berlari dari dapur) Ada apa Pak? Kok teriak-teriak, kayak ada maling saja.
Garno : Uangku mana Bu, Bapak cari nggak ada. Jangan-jangan memang ada maling.
Ratni : Ibu nggak tau Pak.
Garno : Jangan-jangan malingnya anak-anak...? mana mereka? Lasmi...Rusdi...
Ratni : (Ibu gelisah)...sabar Pak, dicari dulu. Mungkin Bapak lupa!
Lasmi : Ada apa Pak?
Rusdi : (Menyusul) Ada apa Yah?
Garno : Kalian pasti ngambil uang Ayah kan?
(Anak-anak diam, mereka saling berpandangan, sambil menunduk)
Garno : Kenapa alian diam? Jawab! Siapa yang menambil? Lasmi...pasti kamu yang ngambil kan? Karena permitaanmu tidak Bapak kabulkan. Begitu caramu...? Baik jika kamu tidakmau ngaku.
(mengambil sapu lidit lalu memukulkannya pada Lasmi)
Ratni : Sabar Pak...
Garno : Diam...
Rusdi : Ayah...hentikan! bukan Kak Lasmi yang mengambil uang Ayah tapi aku. Jika Ayah ingin memukul, pukul saja aku! Jangan pukul kak Lasmi. Dia tidak bersalah.
Garno : Apa...? (Lalu Garno memukuli Rusdi samapai babak belur)
Lasmi : Ayah hentikan....Ayah hentikan....bukan Rusdi Ayah...
(Garno pergi meninggalkan mereka dengan nada marah. Lasmi memeluk Rusdi eat-erat)
Lasmi : Maafkan aku rusdi, tak seharusnya kamu dipukuli oleh ayah...Kamu memang adik yang paling baik. Maafkan aku.
(Mereka berpelukan sambil menangis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar